Di balkon rumah masing-masing, mereka sama-sama menatap lengkung manis pelangi yang sama. Mereka menyadari bahwasannya Tuhan sudah menciptakan mahluknya dengan berpasang-pasangan dan dilahirkan di bawah langit yang sama, disinari oleh bulan yang menjaga bintang-bintang dari kegelapan.
Di atas bumi yang sama pula mereka berpijak dari tangisan hingga kedewasaan dan mengerti makna dari kehidupan yang sebenarnya. Dan segala unsur kehidupan pulalah yang yang menyatukan dua anak manusia dari segala perbedaan dan tak saling mengenal, menjadi sekuntum cinta yang terus merekah hingga cinta itu membawa mereka dalam gendongan sang maha hidup.
"Re, aku adalah pelangi itu, dan kamu adalah lengkungannya. Aku nggak akan bisa tersenyum tanpa kamu, dan kamu nggak akan berwarna tanpa aku...!!!" ungkap Ardi dalam SMSnya untuk Renata.
Renata sama sekali tak pernah menyangka jika cinta yang hampir satu tahun dipendamnya itu akan berbuah manis. Karena selama ini ia tak pernah berfikir jika Ardi ternyata juga mencintainya.
Sepulang sekolah mereka kembali datang ke taman sekolah yang selama ini menjadi tempat favorit Ardi. Segala sesuatu tentang kebiasaan dan hobinya selama ini coba diceritakan oleh Ardi, termasuk hobinya membaca novel hingga novel favoritnya.
"Re, ini novel kesukaanku...! ceritanya bagus banget, dan menggambarkan isi hati dan perasaanku selama ini ke kamu. Cinta yang lama terpendam , namun ahirnya terpisahkan oleh jarak, tapi kesetiaan itu selalu mereka pelihara dan semua kisah itu berahir dengan kebahagiaan sejati yang tidak dapat diuur dengan materi..." tuturnya yang menjelaskan dengan sangat antusias.
"aku boleh pinjam???"
"boleh, tapi bacanya sambil dihayati, biar kamu juga tahu apa yang selama ini aku rasakan !" tambahnya dengan tatapan penuh kehangatan.
Setelah sampai di rumah, Renata segera membaca novel itu dengan deraian airmata. Berbagai konflik yang dihadapi ternyata sangat mengharukan, dan baru saat itulah ia mengerti sosok Ardi yang sebenarnya. Sosok seorang lelaki yang setia terhadap cintanya yang selama ini selalu dijagatak peduli dengan banyaknya rintangan yang menghadang.
Sampai saat hari terahir UNAS kali ini, Ardi masihlah sosok yang sama dengan apa yang dijumpai Renata selama ini. Tidak terlihat perubahan sama sekali, dan tetap menjadi sosok yang sederhana.
Malam ini Ardi sudah dipersiapkan tiket pesawat serta pasport oleh ayahnya, meski pengumuman kelulusan belum diperolehnya. Kedua orang tua Ardi merasa harus memenuhinya, apa yang dijanjikannya. karena permintaan Ardi yang ingin kuliah di German sekaligus bertemu dengan kakak perempuan satu-satunya yang kini tinggal di German sejak 15 tahun yang lalu.
Ardi dan Leony, kakak perempuan yang teramat disayangnya. Mereka sudah terpisahkan sejak 15 tahun yang lalu, ketika Ardibaru berusia 3 tahun, dan Leony memperoleh beasiswa untuk melanjutkan SMPnya di German, setelah sukses merebut mendali dari olimpiade sains se Indonesia.
Kerinduan yang memuncak dari jiwa Ardi yang membuatnya beropsesi untuk kuliah di sana dan akan tinggal bersama Leony yang sekarang sudah menikah dengan orang sana, serta keponakan kecilnya yang kini baru berusia 4 tahun yang bernama Likael.
*
**
Pagi itu Ardi terbangun dengan kegelisahan dan ketakutannya akan kehilangan Renata. Saat itu ia melaju ke balkon, diangkatnya pandangan yang masih sedikit kabur itu. Hujan yang semalam mengguyur kota, nampaknya tidak akan menampakkan lengkungan indah sang pelangi, dan langit tersedu dengan airmata yang membanjiri bumi.
"kalau saja waktu itu dapat tergantikan, aku akan hidup di dua waktu. Yang pertama untuk kak Leon, dan yang ke dua untuk menjalani hari-hari bersama Renata !"
Ia berjalan penuh dengan kebimbangan, dan seakan ingin lari sejenak dari dua pilihan yang membelenggunya. Tapi ayah dan bundanya sudah terlanjur merestuinya untuk beranjak ke German bersama Leon.
"kenapa harus ke ke luar negri sih,yahhh...???"
"bukankah itu yang kamu inginkan sejak dulu?!!, lusa kamu tetap harus berangkat !, jangan kecewakan Ayah dan Bunda...!!!" tegas Ayahnya sambil mengulurkan pasport dan keperluan-keperluannya yang lain.
"kalau memang aku harus pergi, bagaimana dengn Renata ?, apa dia sanggup untuk menerima semuanya...???" tangisnya tiap kali teringat kebersamaan mereka yang begitu singkat.
*
**
Kakinya terus melangkah menghampiri Renata yang tengah duduk sendiri di depan kelas.Tak tahu mengapa, tiap kali ia menatap kembali senyuman-senyuman Renata, semakin ia tak mampu untuk berpaling.
"Re, nanti siang kamu bisa ikut aku sebentar...?"
"ke mana?"
"ikut aja...!!!"
"iya deh...!!!" balik Renata dengan senyumannya yang renyah.
Kebersamaan itu mungkin adalah waktu terahir untuk mereka merasakan kehangatan cinta, karena besok Ardi sudah harus meninggalkannya dalam waktu yang lumayan lama.
Siang itu Ardi segera berlalu ke tempat out bound bersama Renata dan teman-temannya sekaligus sebagai ajang perpisahan untuk mereka.
"Re, kenalin, ini temen-temenku..."
"Ar, Renata udah tahu kalau kamu akn pergi?"
"belun Don, tapi hari ini juga pasti aku ngomong...!"
"ngomongnya yang hati-hati ya Ar, jangan sampai kamu bikin dia seolah-olah kehilangan semua orang di dunia ini...!" nasihat Doni yang sebelunya sudah pernah merasakan ditinggalkan oleh Melodi.
Ardi mengangguk dan menyanggupi serta mengerti apa yang kini dirasakan Doni dan Renata. Ia segera bergegas menghampiri Renata yang tengah asyik mempersiapkan untuk menaiki tebing bersama teman-temannya juga teman-teman Ardi.
"kalau Renata bisa seakrab itu dengan teman-temanku, mungkin saat aku jauh nanti mereka tidak akan membiarkan Renata kesepian..." deru Ardi di tengah ketegangan Renata.
Seusainya Renata berada di tebimg teratas, Ardi lantas berlari-lari dan menghampiri Renata, karena saat itu waktu yang tepat untuk dapat mengutarakan maksud hatinya dengan bertemankan hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi, dan hijaunya puncak tebing dengan pemandangan di bawah yang indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar