Sabtu, 26 September 2009

BIARKAN MONYET MENARI (3)

    "Re, tadi kamu manjatnya keren banget...!!!" lontar Ardi yang masih sedikit ngos-ngosan.
   "kenapa kamu lari-larian ?, manjat 'kan, lebih cepet..."
   "aku nggak mau manjat ! nanti kalau aku jatuh, dan nggak bisa sama-sama kamu lagi...!!!"
Berulang kali ia mulai mengatur nafasnya agar lebih teratur dan dapat menjelaskan apa yang dikehendaki.
   "Re, kalu seandainya aku pergi, gimana sama kamu???"
   "pergi aja...!!!"
   "kamu ngomongnya kok gitu...??? berarti kamu nggak sayang sama aku...!!!"
   "bukannya nggak sayang...!!!, tapi percuma aja meskipun aku nangis atau ngelarang kamu, kamu akan tetep pergi 'kan???" lontar Renata dengan emosi yang tak tertahankan lagi.
   "sayang... aku 'kan cuma nanya ... jangan serius gitu dong...!!!" tangkisnya.
    "enggak!!!, aku tahu kalau kamu emang akan pergi...!!!. Hanya satu inginku, jangan pernah lupakan aku !!!" lontar Renata dengan berlinagan airmata.
    "tapi dari mana kamu tahu kalau aku akan pergi???"
    "ini...!!!" tujuk Renata di halaman novel terbelakang milik Ardi yang sempat dipinjamnya.
    "Re, aku minta maaf, aku nggak bisa untuk selalu di sisi kamu..."
    "jujur aku nerima semua ini juga sulit baget Ar, semua terasa singkat untuk kita jalani..." tambah Renata di sela-sela tetesan airmatanya.
    "tapi aku janji suatu saat nanti aku akan kembali bust kamu...!!!" tegasnya sembari menggenggam erat tangan Renata. Lelu dipeluknya erat-erat tubuh Renata dengan tangisan yang menceburkan mereka dalam kesedihan yang tak tertahankan lagi.
*
**
Sesampainya kembali di rumah, fikiran Ardi terasa semakin runyam ketika ia menatap koper-koper yang sudah berjajar rapi untuk mengantarkannya beranjak dari Indonesia.
    "aku tinggalin semua kenagan indah itu di sini, tapi cerita cinta dan hatiku nggak akan pernah tertinggal!!!" seru Ardi sambil menebarkan pandangannya di antara hijaunya pemandangan taman lewat jendela kamarnya.
Lamunannya sekejap terpecah, kesadaran menbangunkannya untuk melihat beberapa memori kebersamaanya bersama Renata yang sempat iabadikannya lewat cameraa Hp sewaktu bersama Renata siang tadi.
    "aku nggak boleh kehilangan momen-momen berhargaini...!!!, mungkin sekarang aku emang harus kehilangan Renata untuk sementara, tapi aku juga nggak mau untuk benar-benar kehilangan  kehilangan semua tentangnya!!!"
Ardi bergegas pergi untuk mengantarkan foto-foto itu ke rumah Renata meskipun dinginnya malam makin mengusik kehangatan, tapi ia tetap harus pergi.
   "Ar, kamu mau ke mana???" tanya Ayahnya ketika melihat Ardi berlari-larian dan terburu-buru keluar.
   "sebentay yah, aku besok pasti bangun pagi, kok...!!!" balik Ardi yang bergesas menyabet motornya.
Sesampainya di depan rumah Renata, Ardi masih terdiam, dan sepanjang malam itu hanya dihabiskannya untuk menunggu Renata keluar.
Kesedihan juga tengah menyelimuti batin Renata. Semalaman ini ia juga tidak mampu melakukan apapun dan hanya terfikirkan oleh sosok seorang Ardi. Iapun tak mampu memejamkan matanya sekejappun, dan hanya terbayang-bayang akan Ardi yang saat itu tengah kedinginan di luar rumahnya.
*
**
Pagi harinya Renata kembali tersedu dalam tangisanya, dan dilihatnya langit yang masih gelap. Meskipun semalam tidak hujan, namun ia berharap pelangi itu akan datang dan melengkungkan senyumannya sebagai salam perpisahan dari Ardi.
Ketika ia baru membuka pintu dengan segudang kepedihan yang dirangkulnya, ia melihat bungkusan warna biru yang tergeletak di depan pintunya.
   "Ardi... ini dari Ardi...!!!" serunya kegirangan ketika membuka bingkisan itu.
   "Re, besok aku berangkat jam 9, jangan lupa datang ke Bandara sebagai salam terahir untuk kita..." lontar Ardi dalam suratnya.
Dengan berselimutkan airmata di pipinya, Renata lantas pergi ke bandara dengan sepedanya.
       "jangan sampai aku ngecewain Ardi, bagaimanapun caranya, aku harus bisa sampe' bandara sebelum jam 9...!!!"
Renata masih terus mengayh sepedanya, sedangkan waktu yang tersisa tinggal 15 menit lagi, dan jarak yang harus ditempuhnya masih lumayan panjang.
   "ya Allah... jangan biarkan Ardi pergi dulu... aku masih ingin melepas kepergiannya dengan senyuman...!!!" tangis Renata yang sudah teramat kelelahan dengan gayuhan sepedanya yang tak banyak memakan jarak.
   "mungkin Renata nggak baca pesanku, atau mungkin juga dia marah sama aku, makanya dia nggak datang..."gelisahnya yang sudah menunggu kedatangan Renata sejak tadi. Tak henti-hentinya ia memandangi jam yang ada di bandara, karena penerbangan tinggal sebentar lagi.
Taklama kemudian Renata sampai di bandara dengan berlari-larian, apalagi saat melihat jam di bandara yang terus berputar dan semakin membuat nafasnya tersendat-sendat. Tinggal 3 menit lagi Ardi sudah akan melaju,
   "Ardi...!!!"
    "Renata... aku nggak nyangka ahirnya kamu datang juga...!!!" sahut Ardi dengan raut kegembiraan menyambut kedatangan Renata yang akan mempertemukan dua cinta itu untuk yang terahir kalinya.
Ardi langsung merangkul Renata seerat-eratnya untuk yang terahir kali.
    "Re, kalau kamu emang beneran sayang sama aku, jangan penah musnahkan memori indah kita yang hanya sekejap itu, aku juga minta satu hal sama kamu, tolong jaga boneka kelinci dari aku dan semua foto-foto yang kemarin aku kirim ke kamu!!!"
    "Ar, apapun yang terjadi, jangan kamu hilangkan kesederhanaan yang ada di diri kamu, ya...!" pesan Renata dengan tetesan airmatanya.
    "jangan khawatir, kamu jaga diri baik-baik ya,!" pesan Ardi sesaat melepaskan genggaman Renata.
    "Ar, aku sayang kamu..." Renata hanya mampu menatap pilu  setiap langkah Ardi yang beranjak meninggalkannya  dan berahir bersama angin yang membawanya ke benua seberang.
Meskipun jejaknya telah tertinggal, namun semua kenagan indah yang begitu singkat tak akan pernah mereka lupakan.
Kaki Renata telah lemah untuk melangkah, dalam setiap deru nafasnya hanya terisi oleh senyuman orang yang kini telah jauh darinya dan tak akan terganti oleh siapapun.
*
**
Sudah seharian ini Renata hanya memghabiskan waktu untuk terus berdiam dan memandangi foto-foto yang ditinggalkan Ardi dan boneka kelinci,bersama pilunya hati.
Waktu demi waktu terus dilalui dengan kesedihan yang berkepanjangan, hingga kuliahnya semakin terbengkalai karena ia yang tak kunjung terhenti dari kesedihan ini.
Sore itu kak Fitriani, kakak Renata yang kini sudah menikah dengan orang Bandung datang setelah mendengar pernyataan dari Dosen pembimbing Renata yang menyatakan bahwa Renata memerlukan Dosen pembimbing karena kini ia tak menghiraukan apapun yang tengah ia hadapi. Dan kedatangan itu sekaligus ingin mengurus kepindahan Renata ke Bandung, karena di sini ia tak punya siapapun.
   "sayang, kamu tinggal di Badung sama kakak aja, ya...!!!"
   "terserah kakak...!!!"
   "kakak lihat kamu makin kurusan, ya...???"
   "enggak lahhh... dari dulu emang udah kaya gini...!!!" tangkisnya menyembunyikan semua kepiluan hatinya.
Tapi Fitriani tak semudah itu percaya dengan apa yang dikatakan Renata, apalagi dengan semua yang terjadi pada adiknya kini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar