"sayang, sebenernya apa sih, yang membuat kamu jadi begini?, Renata yang kakak kenal dulu nggak seperti ini. Dia ceria, pantang menyerah, dan punya semangat belajar yang tinggi. Bukan yang seperti ini, dia cengeng, dan pemurung...!!!, kamu kalau ada masalah cerita dong...!!!" lipur Fitriani penuh kelembutan.
"apakah semua ini sudah membawaku terkubur terlalu jauh dalam kesedihan...???, sampai-sampai aku membuat hidupku tersita tanpa makna sama sekali...!!!" renungnya.
Malam telah larut, Renata tak letih letihnya melingkari hari demi hari yang sudah dilaluinya tanpa Ardi di sisinya. Renata terbangun dari tempat pembaringannya, dan berlari menuju balkon rumahnya. Semua tersa penuh bisikan, pelangi itu muncul meski tanpa satu warna di dalamnya. Ibarat kerinduan yang tak tertahan, seperti yang pernah dikatakan Ardi, "ia takkan dapat menampakkan lengkungan senymannya tanpa Renata, dan Renata takkan berwarna tanpa Ardi". Kini pelangi itu tatap tersenyum, dan tetap berwarna meski tak lengkap.
Pelangi itu kian memudar dan gelapnya malam tak lagi sanggup menyajikan pelangi untuk menghiasi malam ini dan menguragi sedikit kerinduan, dan hanya bulan serta bintang yang setia menemani malam tanpa lelah.
"Re, kenapa kamu nggak tidur?"
"kak, kakak pernah, nggak... ditinggalin sama orang yang paling kakak sayang...???" tanya Renata yang tiba-tiba.
"pernah, itu hal yang paling menyakitkan buat kakak, apalagi saat orang itu kita tunggu dan dia tidak pernah kembali !" Renata menggnaggukkan kepalanya sembari memikirkan, jika seandainya ia beranjak dari kota ini, mungkin hari-harinya akan kembali normal dengan kehadiran teman-teman barunya, dan sedikit terbebas dari bayangan Ardi yang sudah 4 bulan meninggalkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar