Jumat, 25 September 2009

BIARKAN MONYET MENARI



Rasanya sudah sangat lama  Ardi dan Doni terpisahkan seiring dengan berjalannya waktu. Sudah hamper 3 minggu belakangan ini mereka tidak lagi berkomunikasi karena saling  tertutupnya mereka terhadap masalah masing-masing. Hingga segudang kerinduan membuat Ardi beranjak menghampiri Doni, sahabat yang telah lama tertinggalkan.
“Don, gimana kabarnya ?” sapa Ardi dengan sedikit kecanggungan.
“baik !” baliknya dingin. Di tangannya tampak mengenggam selembar foto yang membuat Ardi tertarik untuk melihatnya.
“itu foto siapa Don?”
“masalah !!!” baliknya nyolot.
“maksudnya masalah ???”
Doni membentangkan selembar foto itu di atas mejanya, sembari menerangakan semuanya;
                “namanya Melodi,aku sayang sama dia sudah sangat lama, yapi nggak pernah ada waktu. Semalem dia ngomong katanya ingin jadi adik yang baik buat akua. Dan itu artinya dia sayang sama aku Cuma sebagai seorang kakak !” terangnya dengan lirih.
“mungkin dengan begitu semuanya bias jadi lebih baik. Kamu harus jadi kakak yang baik buat dia, bahkan rasa sayang seorang kakak terhadap adik bias lebih besar daripada kasih sayangnya kepada pasangannya !” lontar Ardi menambahkan.
Doni  tersenyum bangga, ternyata sahabatnya yang sudah ditinggalkannya sagat lama yang mampu mendinginkan suasana di hatinya.
                “Ar, ternyata semuanya bias jadi lebih baik dengan kedatangan kamu !!!” tawanya kemudian.
Canda tawa itu berlangsung lumayan lama. Kebersamaan yang sempat tersita beberapa waktu yang lalu kini telah kembali. Keadaan itu membuat Ardi sedikit terlupa dengan kegundahannya menjelang perpisahannya dengan  Renata.
                “Ar, gimana sama perasaan kamu terhadap Renata ?”
                “nggak gimana-gimana !!!”
                “Ar,jangan pernah menunda apapun yang kamu kehendaki!” nasihat Doni.
                “tapi Don…”
                “jangan pernah katakana tapi, sebelum kamu berusaha. Daripada nanti kamu menyesal…” tambah Doni.
*
**
                “Assalamu alaikum…!!!
Suara salam dan ketukan pintu itu menggema di malam kehancuran Doni karena Melodi.
                “wa’alaikum salam….” Keadaan berubah setelah Doni membuka pintunya “Melodi…??? Ngapain kamu malem-malem ke sini ?!”
                “aku dating ke sini pengen ngasih dukungan ke kamu buat ujian besok !” lontarnya terlihat gugup.
                “kenapa nggak SMS atau telphon aja…?!!”
                “aku sekalian pengen pamitan…”
                “emang kamu mau ke mana…???”
                “aku besok pindahan ke
Bandung sama keluarga.” Tuturnya.
                “tapi… aku nggak bias nganterin…” tambah Doni dengan kekecewaan.
Doni murung, menundukkan kepala. Kesedihan dan kecemasan melanda batinnya.
                “kakak nggak perlu cemas, !!! besok ‘kan udah ujian…” tambahnya.
                “jadi kamu nggak akan balik lagi ke sini…???”
                “suatu saat nanti aku pasti balik…!!!” lontarnya tanpa ketentuan waktu berapa lama Doni harus menunggunya.
Airmata itu menetes dari pipi Melodi, hati Doni terasa bagai dicabik-cabik saat melihat airmata Melodi yang selamanya akan menjadi kesedihan untuknya.
                “jika memang ini yang terbaik untuk aku, maka gantikanlah pula yang terbaik untuk dia. Dan bila ini adalah jalan untukku melupakannya, semoga akan dating kebahagiaan untuk dia…” sendunya melihat tetesan airmata Melodi.
                “hati-hati dik…” lontar Doni dengan suara rendah penuh kepiluan dalam hatinya.
Melodi berlalu meninggalkan Doni dengan lambaian tangannya nan gemulai.

*
**
Hari ini adalah penentu dari dari perjalanan Ardi dan teman-temannya yang akan segera menempuh ujian kelulusan, namun konsenterasi Ardi sedikit terganggu. Ketakutan selalu menyelimuti jiwanya tiap kali ia melihat sudut demi sudut yang biasa dihuni Renata dan teman-temannya.
Ardi menghampiri tempat itu dengan perlahan, seolah ia melihat bayangan Renata terbentang di sudut itu. Diamati dengan jeli, dan semua kenagan itu akan diabadikan di dasar hatinya.
Tak lama berselang, Renata datang dengan tiba-tiba dan membuat Ardi terkejut.
    "Ar, kamu ngapain ke sini ?"
    "aku ke sini nyari kamu !, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kamu !!!" lontarnya, dan mulai mengungkapkan apa yang dikehendaki. "Re, kalu aku boleh tahu, kabar kedekatan kamu sama Hafiz itu bener, nggak ???" introgasinya dengan sedikit basa-basi.
    "sudah berulang kali pertanyaan itu terus menggema, tapi jawabannya selalu sama. Aku dan dia nggak pernah ada apa-apa!!!" balik Renata yang sudah sangat gerah dengan kabar itu yang berasal dari Hafiz dan teman-temannya sendiri.
Dulu, sewaktu ia baru duduk di bangku SMP kls 2,dan Hafiz sudah SMA kls 3, saat itulah ia bertemu dengan Hafiz karena jarak sekolah mereka yang tak jauh. Perhatian yang diberikan Hafiz padanya sangat berlebih, hingga membuatnya merasa terkekang. Namun  hanya satu tahun saja hal itu berlangsunga, karena kemudian Hafiz pindah ke Jogja, dan kuliah di sana. Namun tetap saja kabar-kabar itu terasa tak pernah terhenti.
   "Re, tapi sebenernya kamu suka,nggak sama dia ???" balik Ardi mengintrogasi
   "nggak pernah...!!!" balik Renata dengan emosi eninngi, hingga membuat Ardi merasa bersalah karena takut Renata tersinggung oleh perkataanya.
   "Re, aku cuma nanya..., nggak ada maksud apa-apa...!!!" seru Ardi menjelaskan.
   "Re, kalu seandainya aku sayang sama kamu, salah, nggak...???" pertanyaan itu meluncur dari mulut Ardi dengan ringan.
Dengan senyum mengembang di bibirnya, Renata kembali menatap kedua mata Ardi nan teduh untuknya. Ia hanya menggelengkan kepala, pertanda bahwa perasaan Adri sudah tepat.
Hati keduanya tersa bagaimerebahkan  diri di atas bunga-bunga surga yang tertanam untuk persembahan cinta sepasang anak manusia.
Sepulang sekolah Ardi dan Renata terlihat pulang bareng dengan senyuman malu-malu, tak seperti biasanya yang selalu jauh.
   "Re, kamu ikut aku sebentar,ya..."
   "ke mana?"
   "udah... jalan aja..."
mereka terus berjalan hingga ke arah koperasi, dan trhenti di depannya. Lalu Ardi terhenti sambil merogoh kantong celananya, dan dikeluarkan sepasang cincin warna hitam dan dipasangkan di jari manis Renata. Memang cincin itu begitu sederhana, namun makna dan arti kesetiaanya yang agung.
   "Re, kamu jangan marah, ya... karna aku cuma bisa ngasih ini ke kamu...!!!"
   "aku suka... karena semua ini nggak bisa aku dapetin dari orang lain. Kalau cincin yang mewah bisa didapetin dari orang lain, tapi kalau ini, cuma kamu yang punya..." tambah Renata dengan senyuman manisnya.
   "apalagi dengan cinta..." tambag Ardi.
   "apapun yang terjadi, jangan pernah mengukur cinta dengan materi,ya..." tambah Ardi kembali.
   "makasih Ar, aku suka dengan cara fikir kamu... jarang aku nemuin cowo' sekarang yang sederhana kaya' kamu...!!!" seru Renata menambahkan.
Ketulusan cinta yang mereka bangun memang buah dari kesederhanaan dan sebuah ketulusan cinta yang selalu tertanam di hati.
Jari-jari itu terus bergerak menggoreskan nama sang kakasih hati. Senyuman- senyuman manis dan malu-malu itu tertabur di bibir-bibir mereka yang tengah dimabuk asmara.
Malam telah usai, kedua kelopak mata mereka telah menutup segala cahaya dan hanya gelap yang ada, namun senyuman mereka tetap terpancar melalui indahnya mimpi bersama sang kekasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar