kedua mataku baru terbuka
mulai berkedip dengan sambutan sang penjaga pagi
menari-nari dengan mimpi semalam
kubuka lembaran-lembaran syair cinta yang kusut,
penuh debu dan sempat terabaikan oleh gemerlapnya hari baru
apa yang kutulis saat itu?, apa yang telah kau hadirkan untukku
laksana 'bintang' yang menemani 'bulan'
ia begitu setia dan menyajikan keramahannya,
begitu pula engkau sempat menyapaku
kau tinggalkan jejak kenangan untukku
kau melebur bersama waktu yang kian larut
'kuinginkan kebersamaan!'
kebersaan 'yang teramat panjang'
hanya ada kau dan aku di antara matahari dan bulan
awan akan menyajikan keramahan
meneduhkan kita dalam kerinduan
sebatang ranting mengayun di jariku
kuhadapkan diriku di tengah gelombang dan pasir
kugoreskan namamu di antara butirnya
namun tiba-tiba ombak datang menghempasnya
menenggelamkan rantingku tanpa tersisa
namun ku tak akan menyerah!
takkan kutangisi kehanyutannya
jariku berdiri dengan tegap
dan kuukir kembali namamu di atas pasir itu
aku mampu mengganti rerantingan yang tengah hanyut dengan jariku
namun bila engkau yang hilang, kemana harus kumencari?
siapa yang sanggup menggantikanmu?
lebih baik aku tergelincir dalam gelombang ombak dan gemanya,
ku'kan terus memanggil-manggil namamu...
wahai 'sahabatku...'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar