Selasa, 29 September 2009

Sang penjaga mimpi

kaki ini terus melangkah meski didera kelelahan
membawa raga ini jauh ke ujung seberang
kini t'lah kutemukan tempat dimana ku dapat sejenak bersandar
melewati gelapnya malam dalam kerinduanku

saat raga telah terbaring lemah
malam merangkulku dalam mimpi,
dan Tuhan mengirimkan seorang peri kecil untukku,
untuk menemaniku menyalakan api kerinduan
dan memadamkan seberkas cahaya kehidupan

ia tersenyum...
mengarahkanku ke kebun jiwa yang tak terukur,
tak terselami, tak terdaki, dan tak terhinggapi...
kupandangi setiap sudut mimpiku
ternyata semua nampak semu dari penglihatanku

kemudian ia datang,
kembali padaku dengan senyuman tersipu,
ditunjukkannya nada-nada jiwa ini yang penuh dengan raungan
teramat sakit dan penuh dengan luka
tercabik hingga mengeringkan airmata ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar